Kepuasan Kerja

Kepuasan Kerja dalam Organisasi perusahaan

Apa itu kepuasan?

Kepuasan atau “satisfaction” berasal dari bahasa latin ‘satis’ yang berarti cukup baik atau memadai dan ‘facio’ yang berarti melakukan atau membuat. Kepuasan dapat diartikan sebagai upaya untuk memenuhi suatu hal atau melakukan sesuatu agar memadai. Secara umum kepuasan dapat diartiakan sebagai perasaan baik atau senang yang muncul ketika kita dapat mendapatkan sesuatu atau ketika apa yang kita inginkan terpenuhi. Namun apabila dikaitkan dengan konteks manajemen pengertian kepuasan akan menjadi sangat bervariasi dan kompleks.

Pengertian kepuasan kerja

Kepuasan kerja merujuk pada sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja secara sederhana dapat didefinisikan sebagai perasaan senang atau kecewa terhadap sesuatu yang kita dapatkan atas apa yang telah kita kerjakan. Menurut Stephen P.Robbins kepuasan adalah suatu sikap umum terhadap pekerjaan seseorang; selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka yakini seharusnya mereka terima. Definisi ini memberikan makna yang luas, karena pekerjaan seorang pegawai dapat melibatkan banyak hal, seperti berinteraksi dengan rekan sekerja dan atasan, mengikuti aturan dan kebijakan organisasi, memenuhi standar kinerja, hidup pada kondisi kerja yang sering kurang dari ideal, dan hal serupa lainnya.

Seorang individu dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan menunjukkan sikap yang positif terhadap pekerjaannya. Sebaliknya, seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya akan menunjukkan sikap yang negatif terhadap pekerjaannya itu. Seorang karyawan yang puas memilikli indikasi memberikan kinerja terbaiknya kepada perusahaan, bekerja dengan rajin, tidak pernah mengeluh dan memilikli tingkat produktivitas yang tinggi. Sedangkan seorang karyawan yang tidak puas akan sebaliknya.

Mengukur Kepuasan Kerja

Karena sumber daya manusia merupakan aset utama dalam perusahaan, maka agar kinerja perusahaan dapat dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, perusahaan harus dapat memastikan bahwa seluruh pegawainya puas dengan apa yang diberikan perusahaan sebagai balas jasa kepada mereka. Untuk itu perusahaan perlu mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan kerja pegawainya.  Terdapat dua pendekatan yang menurut Robbins paling banyak dipergunakan dalam mengukur kepuasan kerja:

1.      Angka-nilai global tunggal (single global rating)

Metode ini dilakukan dengan cara meminta pegawai untuk mengisi/menjawab satu pertanyaan, seperti: seberapa puaskah anda  dengan pekerjaan anda? Kemudian responden (pegawai) dapat menjawab dengan pilihan-pilihan yang tersedia, misalnya responden dapat memilih angka 1 sampai 5, yang mewakili “sangat puas” sampai “sangat tidak puas”.

2.      Skor Penjumlahan (summation score)

Metode ini merupakan metode yang lebih maju. Untuk menggunakan metode ini maka perlu diketahui terlebih dahulu unsur-unsur utama dalam pekerjaan. Kemudian menanyakan kepada pegawai tentang bagaimana pendapatnya atau perasaannya terhadap unsur-unsur tersebut. Aspek-aspek yang biasanya ditanyakan dapat meliputi; sifat dasar pekerjaan, tingkat upah, tunjangan, promosi jabatan, penyeliaan, hubungan dengan rekan kerja, hubungan dengan atasan dan lain-lain.

 

Kedua metode diatas menurut hasil riset tidak ada yang lebih unggul atau lebih baik, dengan kata lain kedua metode itu sama-sama valid, walaupun jika kita perhatikan sejenak, metode Skor Penjumlahan nampak lebih akurat dan lebih dapat diandalkan, karena banyaknya aspek pekerjaan yang dilibatkan. Tapi riset tidak membuktikan hal ini. Maka penentuan metode mana yang sebaiknya anda gunakan bergantung pada pertimbangan anda sendiri.

Menurut Stephen P. Robbins Terdapat sejumlah indikasi atau respon yang diungkapkan karyawan ketika mereka tidak puas, yaitu:

1.      Exit, tindakan yang mengarah pada keluarnya karyawan dari perusahaan. Tindakan ini dapat berupa pencarian posisi atau jabatan baru dalam perusahaan atau bahkan minta berhenti

2.      Suara (Voice), mencoba untuk memperbaiki situasi yang dialami karyawan dengan cara pemberian saran perbaikan, pengaduan ke serikat buruh atau diskusi dengan atasan.

3.      Kesetiaan (Loyalty), tidak melakukan tindakan apapun terhadap kondisi yang ada, namun karyawan percaya bahwa kondisi akan membaik dengan sendirinya.

4.      Pengabaian (Neglect), mengabaikan kondisi yang ada dan membiarkannya semakin memburuk.

 

Kepuasan dan produktivitas berbanding lurus. perusahaan dengan karyawan yang puas akan berjalan lebih efektif dari pada perusahan dengan karyawan yang kurang puas. Namun aktivitas dalam perusahaan melibatkan proses yang cukup rumit, sehingga keefektifan perusahaan tidak dapat hanya dinilai dari kepuasan kerja karyawan.

 

 

Explore posts in the same categories: SDM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: